1. Design & Illustration
  2. Illustration

Realisme, Fotorealisme, dan Gaya dalam Menggambar

by
Read Time:27 minsLanguages:

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Irsyad Rafsadie (you can also view the original English article)

"Aku tahu anatominya ini tidak pas, tapi ini gayaku", "Gambar ini tak punya gaya", "Aku suka gayamu!" Kita sering menggunakan kata gaya tanpa benar-benar memahami maknanya. Seperti kata "cinta" atau "seni", kita tahu dalam hati, tapi sulit mengartikannya.

Dalam artikel ini saya akan mencoba menganalisis konsep gaya: Apa itu gaya? Dapatkah gaya dinilai? Apakah semua gaya sama bagusnya? Dapatkah gaya menutupi bakat yang kurang? Apa yang membuat gaya jadi realistik? Salahkah jika meniru gaya orang lain? Dan, yang terpenting, bagaimana cara mengembangkan gaya sendiri?

Jawaban atas semua pertanyaan tersebut ada pada konsep menggambar itu sendiri. Jika kamu belum pernah mempelajari apa itu menggambar, kesimpulannya mungkin akan sangat mengejutkanmu!

Gaya? Gaya Apa? Saya Bahkan Tak Bisa Menggambar!

Betulkah itu? Pemirsa yang budiman, perkenankan saya menyampaikan tutorial pamungkas tentang cara menggambar!

Langkah 1

Ambil suatu benda yang meninggalkan bekas jika ditekan.

how to draw tutorial 1how to draw tutorial 1how to draw tutorial 1

Langkah 2

Tekan benda itu ke suatu bahan (yang padat seperti kertas, kayu, tanah dll).

how to draw tutorial 2how to draw tutorial 2how to draw tutorial 2
1—tekan

Langkah 3

Geser benda itu sekadarnya agar meninggalkan bekas

how to draw tutorial 3how to draw tutorial 3how to draw tutorial 3
1—tekan, 2—geser

Terdengar aneh? Tapi memang begitulah menggambar!  Karena itu, semua orang bisa menggambar—bahkan dengan mata tertutup!

basic drawingbasic drawingbasic drawing
Itulah gambar!

Tapi, pengertian menggambar yang obyektif sekali ini sudah dibaurkan dengan hal yang lebih samar—gaya. Malah biasanya ia sering dikaitkan dengan satu gaya tertentu: realisme. Nilai suatu gambar jadi dikaitkan dengan seberapa realistis gambar tersebut. Ketika seorang anak dibilang berbakat menggambar, itu bukan karena garisnya rapi, atau dia bisa membuat gambar sekali jadi tanpa penghapus—tapi itu karena orang dapat mengenali hal-hal yang dia gambar!

realistic drawingrealistic drawingrealistic drawing

Mungkin Bakat—Mungkin Ketekunan

Yang bilang "Saya tidak bisa menggambar" seringkali bukan karena tidak mampu memegang pensil, tak punya waktu atau terkendala—maksud mereka sebenarnya "Saya tidak tidak tahu cara menggambar realitas di selembar kertas". Andai saja mereka tahu, itu mudah diatasi—jika kamu tidak tahu cara melakukan sesuatu, carilah orang yang tahu dan belajarlah darinya! Tapi yang bilang "Saya tidak bisa menggambar" itu tidak sama rumusannya seperti ketika bilang "Saya tidak [belum] bisa berenang/berbahasa Cina/bermain catur". Mereka mengisyaratkan ketidakberdayaan—"orang lain bisa menggambar, tapi saya tidak". Dari mana munculnya keputusasaan ini?

Sekali lagi, ada dua definisi menggambar: membuat tanda pada suatu bahan dan membuat tanda yang menyerupai hal nyata. Pencampuradukan kedua makna ini bisa berakibat fatal bagi seniman pemula. Kamu tahu betapa mudahnya menggambar itu (menggoreskan pensil di atas kertas), tapi kamu tidak bisa melakukannya (menggambar naga). Bagaimana kamu bisa menjelaskannya kalau itu bukan berkat keterampilan magis?

the difference between drawing and creatingthe difference between drawing and creatingthe difference between drawing and creating
Gambar dasar dan gambar dengan tambahan gaya

Kamu baru mengambil langkah pertama untuk memahami salah kaprah tentang kata "bakat". Orang berbakat tidak "terlahir dengan keterampilan bawaan yang tak bisa dipelajari". Bakat adalah predisposisi beberapa jenis, tak seperti yang kamu kira, dan tak terbatas pada seni saja.

Mari kita buat contoh. Mengemudikan pesawat itu mudah, kan? Kamu tinggal duduk, memindahkan kendali dan menekan-nekan sekian tombol... Tidak, sebenarnya, tidak ada yang bilang begitu. Kita tahu ada banyak pengetahuan yang perlu dipelajari untuk dapat mengendalikan pesawat. Pilot berbakat tidak terlahir dengan pengetahuan tersebut—tapi, ia mungkin terlahir dengan sesuatu yang lebih kecil, seperti refleks yang baik atau ketenangan. Ciri-ciri kecil ini dapat membantunya dalam banyak profesi, dan jika ia menjadi pilot, ciri-ciri itu akan sangat berguna.

Bakat dalam profesi "praktis" lebih sering dikaitkan dengan keterampilan yang dipelajari. Bahkan jika kamu bilang seorang pilot atau pengemudi itu berbakat, itu hanya seperti hiasan saja, yang membuat mereka lebih menonjol di antara pilot dan pengemudi handal lainnya. Tapi dalam profesi artistik... situasinya berbeda. "Karyamu luar biasa, kamu sangat berbakat!" kata orang kepada para seniman handal, seolah bakat itu wajib ada untuk bisa menggambar dengan baik. Dan jika kamu tak bisa menggambar dengan baik, itu pasti karena kamu tak dikaruniai bakat—jadi kamu tak ditakdirkan jadi seniman. Itu adalah alasan yang bagus untuk putus asa, bukan?

do you need talent to be great at somethingdo you need talent to be great at somethingdo you need talent to be great at something
A—pengemudi, B—seniman; 1—buruk, 2—baik, 3—berbakat

Sekali lagi—tidak ada yang namanya "bakat menggambar". Seperti dalam contoh pilot, kamu dapat terlahir (atau dibesarkan!) dengan ciri-ciri umum yang kecil seperti kesabaran, kepekaan, keingintahuan, perfeksionisme atau kegigihan. Mungkin ada lebih banyak lagi, dan ada satu kesamaannya—semuanya tidak khusus, dirancang untuk satu keterampilan tertentu, tetapi bisa mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. Kamu bisa memanfaatkannya untuk menjadi seniman hebat—tetapi tidak harus begitu. Kamu bisa menjadi programmer, atau pembuat jam, dan tidak menyentuh pensil sekalipun.

Saya yakin sebagian besar ciri itu berguna juga untuk bidang seni. Yang penting kamu harus tahu bahwa menggambar itu harus aktif dipelajari—bukan keajaiban, tapi keterampilan yang sama sulitnya dengan belajar mengendalikan pesawat. Saya serius! Kamu perlu pengetahuan dasar yang bukan hanya dari desain, tapi juga bidang lain seperti kedokteran, arsitektur, matematika, dan fisika. Tapi setelah kita memahami apa itu menggambar, kita perlu membahas bagian darinya yang mungkin belum kamu kuasai—menggambar realisme.

Realisme

Pada dasarnya, realisme adalah gaya menciptakan sesuatu yang akan dikenali oleh pikiran kita sebagai "nyata" atau "hampir nyata". Kita bisa bilang kalau patung itu nyata, tetapi bagaimana dengan selembar kertas 2D yang ada beberapa goresan di atasnya? Bagaimana itu bisa menyerupai hal yang nyata? Saya mengulas hal ini di artikel tentang cahaya dan bayangan, tapi di sini saya ingin menguraikan topik ini.

Otak kita menciptakan realitas yang kita persepsi dari serangkaian gambar diam 2D yang dibuat setiap sekian detik. Kedalaman tercipta lewat perbandingan dua potret yang diambil pada saat yang sama, tapi dalam posisi yang agak berbeda (meski itu bukan satu-satunya cara untuk menciptakan kedalaman, karena dengan satu mata pun bisa). Karena itu, gambar dapat disebut sebagai "potret otak" yang diambil agar bisa dilihat orang-orang, di luar momen dan tempat pengambilan gambar.

brain-snapshotsbrain-snapshotsbrain-snapshots

Ada beberapa soal yang muncul dari sini:

  • Meskipun semua potret tersimpan di otak kita, kesadaran kita tak cukup cepat untuk memprosesnya seperti ini. Sama seperti kita tidak melihat satu per satu penggalan di film, kita tidak bisa melihat satu potret saja—kita hanya melihat gerak yang tercipta berkat perubahan potret-potret.
  • Kenyataan yang kita lihat terbuat dari begitu banyak potret berbeda yang terus berubah. Dengan satu tolehan kepala saja kamu menyadari sesuatu makin besar jika kamu mendekat (meskipun tampak kecil pada saat itu). Perspektif adalah bagian integral dari realitas kita sehingga kita tak dapat membayangkan dunia tanpanya—meskipun perspektif kita tidak ada di luar otak kita!
  • Mustahil menggambarkan kenyataan—satu potret tidak akan cukup. Karena itu, setiap gambar atau lukisan adalah semacam kompromi dan simulasi realitas—biasanya beberapa potret digabung menjadi satu untuk membuat adegannya lengkap.
  • Kamu tidak dapat menggerakkan matamu dalam satu potret. Kamu tidak dapat melihat hal yang di luar fokus—sesuatu akan menjadi fokus begitu kamu melihatnya, sehingga mengubah keseluruhan pemandangan. Jadi, gambar adalah potret beku dari otak orang lain—ketika mengamatinya, kamu bukan pengamat yang asli!

Ada banyak tingkatan realisme. Otak kita beradaptasi untuk bisa melihat pola, sehingga kita bisa melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada, seperti wajah di Mars atau tanda dari daun teh. Karena itu realisme tingkat dasar relatif mudah dikuasai tanpa perlu didalami—pikiran kita memaklumi. Salah satu tanda "bakat menggambar" bisa jadi adalah kemampuan untuk menciptakan pola-pola ini dengan efektif—tapi ini bukanlah keterampilan, melainkan sekadar dugaan. Jika kamu menekan beberapa tombol secara acak lalu mesinnya berfungsi, tidak lantas berarti kamu dapat mengoperasikannya!

Perbedaan antara bakat menciptakan pola dan keterampilan sebenarnya mudah diketahui—jika kamu suka sekali dengan gambar indah yang kamu buat dan kamu khawatir tidak akan bisa menggambarnya lagi jika itu hilang, itulah pengaruh bakat. Keterampilan tidak mengandalkan keberuntungan!

brain likes patternsbrain likes patternsbrain likes patterns
Garis di sebelah kiri benar-benar acak!

Tingkat realisme diciptakan oleh berbagai elemen yang berusaha dikenali otak kita. Beberapa lebih penting dari yang lain, dan bisa berbeda dari orang ke orang.

Outline

Garis adalah inti menggambar. Tapi, garis tidak sama dengan outline—outline adalah garis yang ditujukan untuk dilihat dalam kesatuan, menetapkan mana yang "di dalam" dan "di luar". Kita sangat mahir melihat outline, meskipun di dunia nyata ia tidak dalam bentuk garis. Outline sepenuhnya manasuka—setiap seniman dapat menggunakan beberapa outline berbeda untuk objek yang sama.

styles of outlinesstyles of outlinesstyles of outlines

Di sinilah gaya pertama kali muncul. Ketika sesuatu manasuka, semua orang dapat membuat versinya sendiri—dan tidak ada yang lebih atau kurang tepat dengan sendirinya. Kita perlu menambahkan standar lain untuk menilainya, dan itulah yang biasa kita lakukan—kita menggunakan label seperti "realistik" (menyerupai sesuatu yang nyata), "kartun" (garis minim, bentuk simbolik), atau "manga" (gaya khas Jepang).

the difference between realism cartoon and your stylethe difference between realism cartoon and your stylethe difference between realism cartoon and your style

Jika perbedaan realisme dan kartun begitu jauh, mengapa tidak semua gaya non-realistik tampak "benar" dan sedap dipandang?

Setiap Gaya Berasal Dari Distorsi Realisme

Kalau kamu menggambar kucing, kamu tak bisa membuat sesuatu yang baru sama sekali dan menyebut itu kucing (kecuali kamu surealis—tapi niatmu mestilah bukan menggambar kucing). Kamu perlu memasukkan hal-hal khas kucing dan memodifikasinya untuk membuat versi baru hewan itu. Dan kamu perlu tahu kaidahnya untuk bisa melanggarnya. Jika kamu belum pernah menggambar kucing, dan tak pernah mempelajari anatomi dan proporsinya, jangan berharap gambarmu akan tampak benar—sekalipun kamu ingin menggambar kartun. Ibaratnya kamu ingin merakit mobil canggih—jika tak bisa merakit versi aslinya, jangan harap kamu bisa melakukannya.

style requires rulesstyle requires rulesstyle requires rules

Setiap Gaya Bersandar pada Kaidah

Semuanya harus punya tujuan—kamu tak bisa hanya menggoreskan unsur-unsurnya secara acak. Itulah sebabnya pemula biasanya terkendala ketika menggambar ulang karakternya—gambar pertama adalah hasil tebakan, dan sekalipun tampak bagus, dia tidak tahu mengapa!

Jika "gaya"-mu tidak didasarkan pada suatu kaidah, maka itu sebenarnya bukanlah gaya. Gaya mesti dapat dijelaskan—dan jika gayamu tidak punya kaidah, bagaimana kamu bisa menjelaskannya? "Gaya X dicirikan oleh... karena itu digambar oleh X". Itu sama saja seperti mengatakan "ciri khas mobil Y adalah ia tampak seperti mobil Y". "Spontan", "acak," atau "gila" bukanlah deskripsi gaya yang baik. Perlu ada definisi—resep yang bisa kamu gunakan berulang kali—sekalipun kamu adalah satu-satunya orang yang tahu persis.

Kaidah membuat gaya dapat diulang; itulah dasar dari gaya. Satu gambar saja tidak lantas menjadi gaya, harus ada lebih banyak lagi. Ini membawa kita ke soal berikutnya:

Gaya itu Disengaja

Kamu mungkin berpikir "katanya setiap gaya berasal dari realisme, lalu bagaimana dengan seni abstrak?".

Pertama, seni tidak sama dengan gaya. Ia adalah konsep yang jauh lebih luas dan kita tidak membahasnya di sini. Yang penting dari gaya adalah ia dapat dijelaskan pada banyak tingkatan detail. Contoh "hierarki" gaya bisa jadi seperti ini: gambar > hitam putih > manga > [cantumkan kaidah terperinci di sini]. Begitu juga dengan seni abstrak: lukisan > berwarna > abstrak > [cantumkan kaidah terperinci di sini].

Kedua, meski mungkin kontroversial, tetapi saya pikir abstraksi juga berasal dari realisme—ia adalah negasi terhadapnya. Untuk membuat sesuatu yang abstrak, kamu perlu tahu apa yang tidak abstrak. Jika kamu ingin melukis gambar yang gelap, kamu harus tahu warna apa yang perlu kamu hindari—warna yang tidak gelap. Kucing yang tidak tampak seperti kucing karena kamu belum belajar cara menggambar kucing bukanlah "seni abstrak"—itu keliru belaka. Ketika gambar akhirnya sangat berbeda dari yang ada di kepalamu, dan kamu berpura-pura bahwa itu disengaja, kamu hanya menipu diri sendiri.

Mungkin saya agak keluar dari kompetensi saya di sini—seni sangat sulit didefinisikan sehingga noda bercak di dinding saja bisa jadi disebut seni (hanya karena bergitu acak dan tak disengaja). Tapi, saya tidak akan menyebut suatu kebetulan itu gaya—dan kalau harus disebut begitu, definisi gaya ini adalah "menggambar/melukis di luar maksud sang seniman". Apakah kamu ingin menyamakan gayamu dengan anak usia 2 tahun?

random drawingrandom drawingrandom drawing
Ini ibu, ayah dan Buddy. Kamu mungkin tak bisa mengenalinya, tapi inilah gayaku.

Rasio Emas adalah Ukuran Keindahan

Ini adalah topik besar, tapi jelas perlu dipelajari. Pada dasarnya, ada proporsi yang akan membuat unsur gambarmu terlihat bagus—dan sebaliknya, akan terlihat buruk jika keluar dari proporsi ini. Otak kita diatur untuk itu—kamu tidak bisa mengubahnya. Ada matematika murni di balik setiap bunga dan daun, dan matematika yang sama harus diterapkan pada segala yang kamu buat agar pikiranmu membenarkannya, sekalipun itu tidak realistis.

Tentu bisa ada dan harus ada penyimpangan kecil (keindahan sempurna itu membosankan, sedikit cacat bisa sangat menarik), tetapi "tubuh" utama objekmu harus mengikuti kaidah ini setidaknya secara kasar. Jadi sekalipun kamu mengubah ukuran kepala ke bentuk kartun, ada ukuran yang akan terlihat bagus dan ada yang tidak—kemampuan untuk melihatnya tanpa pengukuran bisa jadi tanda lain dari "bakat", tetapi itu juga dipelajari lewat latihan.

golden ratiogolden ratiogolden ratio
Proporsi antara A dan B sama dengan antara A+B dan A

Adaptasi

Ada satu hal yang dapat menyelamatkan gayamu, segila dan sejauh apa pun gayamu dari realisme. Ini disebut adaptasi—ketika kamu berulang kali melihat sesuatu yang aneh, itu menjadi normal bagimu (tetapi tidak bagi yang lain). Jadi, jika kamu terus memperlihatkan kreasi senimu kepada teman yang sama, mereka mungkin akan mulai memahaminya. Penghargaan mereka mungkin membuatmu keliru mengira kamu sudah punya gaya, tetapi itu hanya akan disalahpahami orang lain. Jangan mengurung dirimu di zona nyaman, tetapi dengarkanlah pendapat orang-orang di luar lingkaran penggemarmu. Itulah satu-satunya cara untuk berkembang sebagai seniman.

Ada juga sisi lain dari adaptasi. Kita cenderung menganggap "normal" hal-hal yang kita kenal saja. Itu sebabnya dinosaurus yang digambar dengan benar pun, karena kurang dikenal jadi tampak keliru secara anatomis, dan kungkang dengan anatomi kucing bisa luput dari perhatian. Fakta lucu: empat kaki, atau telinga di atas kepala tidak lebih absah daripada tiga kaki dan telinga di pantat—ia hanya lebih sering terlihat di dunia kita dan karenanya dianggap alamiah.

wrong adaptationwrong adaptationwrong adaptation
Ekor belang panjang? Ada! Topeng gelap di kepala? Ada! Mata membelalak? Ada! Badan ramping? Ada! Baiklah—itu pasti kungkang

Cahaya dan Bayangan

Tujuan pertama penglihatan adalah untuk merasakan cahaya dan bayangan. Kita masih sangat sensitif terhadapnya, dan kita tidak perlu outline untuk melihat bentuk ketika ada cahaya dan bayangan. Ini bisa jadi tahap lain dari menggambar (mengarsir dengan garis), atau tahap awal lukisan.

Kita tahu ada beberapa unsur yang dapat disandarkan pada "bakat menggambar", seperti kesabaran, perfeksionisme, kemampuan membuat pola dan mengenali rasio emas. Bakat melukis (dan bayangan pada umumnya) jauh lebih langka. Dasarnya adalah "mata untuk mengobservasi". Ide tentang dunia yang terbuat dari outline begitu melekat dalam pikiran kita sehingga sangat sulit untuk melihat bentuk yang dibuat cahaya dan bayangan. Kamu perlu berusaha memvisualisasikan dunia sebagaimana adanya—yang diliputi bercak cahaya dan bayangan. Dan bahkan usaha melukis dengan cara ini dapat membuat otot otak sakit (begitulah yang saya rasakan). Tapi, ini layak diupayakan—seni berantakan yang tercipta dari cahaya dan bayangan tampak jauh lebih realistis di mata kita daripada karya rumit dan rapi yang hanya terdiri dari outline.

light and shadow versus lineslight and shadow versus lineslight and shadow versus lines

Cahaya dan bayangan, serta bentuk yang dibuatnya, terbuka bagi gaya seperti halnya outline. Ukuran dan bentuk sapuan kuas saja memberimu kesempatan untuk membuat beragam interpretasi atas sebuah pemandangan. Ketika kamu menambahkan interpretasimu sendiri soal penempatan cahaya dan bayangan, kamu tak perlu khawatir tak terkenali. Baca lebih lanjut tentang cahaya dan bayangan di sini—dan pikirkan bagaimana kamu dapat membuat gayamu sendiri dengan kaidah ini!

Warna

Warna adalah pengayaan visi yang luar biasa, membawa banyak informasi baru ke dalam pemandangan. Sekarang, selain kadar, kita punya corak, saturasi dan kecerahan. Semakin banyak unsur yang membangun gambar, semakin banyak kemungkinan untuk membuat gaya yang khas. Memikirkan kadar saja sudah sulit—sekarang bertambah tiga aspek lagi!

Kamu bisa realistik—tapi kamu tidak harus. Saya sering melihat seniman yang piawai menggambar realistis (outline) dan langsung memberi warna yang serealistis mungkin—semuanya seperti yang tampak di dunia kita. Tidak perlu begitu—malah nanti akan jadi fotorealisme yang menjemukan! Dan kekurangan fotorealisme (kita akan membicarakannya nanti) adalah gayanya tampak identik, siapapun yang menggunakannya. Jika kamu ingin gayamu khas, menjadi milikmu, bermain-mainlah dengan aturan. Kamu tentu perlu mempelajarinya, pelajari alam dan benda di sekitarmu, tapi lalu modifikasilah apa yang kamu pelajari itu. Buat aturanmu sendiri!

Apofisss styleApofisss styleApofisss style
Cheers it all oleh Apofiss—gaya ini adalah contoh yang bagus bagaimana bermain-main dengan realitas

Detail

Ini mungkin mengejutkan, tetapi detail tidak begitu penting dalam lukisan realistik, atau bahkan dalam menggambar. Karena kita tidak benar-benar melihat potret dalam otak, dan gambar hanyalah simulasi dari pemandangan yang dipersepsi, kita bisa melakukan beberapa langkah untuk membuatnya. Melukis segala hal sebagaimana terlihat dalam sepersekian detik hanya akan merampas makna sebenarnya dari situasi tersebut. Makna itu tersebar di beberapa, bahkan mungkin puluhan potret. Dan jika kamu ingin menggambar, bukan untuk membuat film atau animasi, kamu perlu beberapa trik.

Ini mungkin termasuk bakat, yaitu kemampuan untuk mengubah gerak menjadi gambar tak bergerak, tapi kesannya tetap ada. Terlalu memikirkan detail sejak awal secara tak langsung bisa menghambatmu ke arah ini. Ketika kita melihat pemandangan, hal pertama yang kita sadari adalah sensasi tersirat—kita melihat gerak, pertempuran, kilatan pedang, merah darah—bukan helai jenggot sang kesatria atau pernak pernik baju zirahnya.

painting without detailspainting without detailspainting without details
Dalam "gambar" ini hanya ada titik warna gelap dan terang saja. Yang kamu lihat di sini sebagian besar dicipta olehmu!

Ada banyak ruang untuk gaya di sini, di antara gumpalan bayangan dan pemandangan yang sangat mendetail. Ada banyak cara untuk mencapai "kesan" ini, dan jika kamu mengorbankan detail, kamu akan lebih mudah menemukan gayamu sendiri. Hanya ada satu cara untuk menggambar detail secara realistik—tapi ada banyak sekali cara untuk menciptakan kesan detail itu.

Fotorealisme

Apa perbedaan realisme dan fotorealisme? Sampai sini kita sudah membahas potret dalam otak. Bagaimana dengan potret dari kamera sungguhan? Foto telah menjadi hal yang lumrah buat kita. Kita menganggapnya sebagai cerminan kenyataan sesungguhnya, tanpa menyadari bahwa cara kerja kamera tidak persis sama dengan mata dan otak kita. Kita begitu terbiasa dengan foto hingga kadang ia tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri!

Fotorealisme bukanlah realisme tingkat tinggi. Ia hanya soal membuat sesuatu sepersis mungkin sehingga terlihat seperti fotografi. Tapi, lagi-lagi, foto tidak sama dengan potret otak—kamera tidak menangkap semua ilusi dan tidak seakurat yang kita pikirkan. Seringkah kamu memotret sesuatu, tetapi hasilnya tidak seindah yang kamu lihat dengan mata telanjang (bulan, matahari terbenam)? Kamu bisa memperbaikinya dengan sedikit pengetahuan fotografi, tapi sekarang kita bisa menciptakan realitas yang lebih kaya—lebih baik dari yang tampak oleh mata telanjang! Dan ini berbeda dengan manipulasi foto—kamera itu sendiri dapat diatur untuk "melihat" dunia dalam banyak cara. Dan saat kamu menambahkan cahaya, yang tidak ditemui di alam, kamu mendapatkan efek menarik, tetapi tidak realistis. Belajar dari foto mungkin tidak membuatmu menguasai realisme!

realism versus photorealismrealism versus photorealismrealism versus photorealism
1—realisme, 2—fotorealisme

Kamu bisa bilang "tapi foto itu kan sangat realistik seperti kenyataannya". Salah—kamu hanya mengira foto itu realistik. Coba ambil foto lalu lihat pemandangannya dengan mata telanjang—perbedaannya bisa mencolok. Ada perbedaan teknis, seperti suar lensa (mata kita tidak begitu), atau area di luar fokus (kita melihat dengan dua mata, jadi area ini tidak hanya buram, tapi juga tercipta dari dua peralihan gambar), dan yang lebih rumit—kamera hanya menangkap apa yang ada, tetapi otak kita dapat menangkap lebih banyak hal dari realitas. Kamu tidak bisa mengambil foto pemandangan dengan mata berlinangan, atau mata jeri yang berlari di tengah hutan gelap di malam hari. Kita tidak hanya melihat, kita juga merasa—dan foto tidak merasa.

Satu hal lagi: Saya katakan sebelumnya bahwa mustahil menggambar realitas. Sementara itu, kamera ingin mengambil potret realitas yang sempurna. Kamera tidak membuat foto jadi lebih nyata daripada apa yang kita lihat—foto itu justru jadi terlalu objektif dan terlepaskan bagian terpentingnya dari realitas kita. Pergi ke restoran itu bukan hanya berjalan ke tempat mahal untuk menghilangkan lapar, begitu juga kenyataan bukan sekadar tanda-tanda visual.

the flaws of photorealismthe flaws of photorealismthe flaws of photorealism
Nyatanya daratan di bawah langit itu tidak begitu gelap, dan warnanya mungkin tidak sehidup itu.

Tentu saja, bukan berarti fotorealisme itu salah. Saya hanya ingin menggugat pandangan bahwa seniman realistik harus mendekati kualitas foto. Itu adalah dua gaya berbeda, dan tidak ada yang "lebih baik" atau "lebih tinggi". Penting juga untuk mengamati dunia dengan mata telanjang dan tidak bergantung pada foto saja. Foto memang lebih mudah didapat, tapi kadang mengambil dedaunan dan menciptakan efek hamburan bawah permukaan itu bisa memberimu lebih banyak pelajaran. Dengan belajar dari realitas dan foto-realitas, kamu bisa menciptakan gaya yang benar-benar baru dan unik.

Menggambar dari Imajinasi

Bagaimana dengan hal-hal yang tidak nyata? Apakah itu mungkin digambar dengan realistik, atau dengan gaya yang mengikuti realisme? Bisa, tapi kamu harus menggambarnya dalam wujud di dunia kita seandainya ia nyata. Kamu mungkin berkata "tapi saya ingin pakai gaya non-realistik, misalnya naga berkaki tipis seperti korek dan berkepala bulat besar". Silakan, tapi perhatikan hal yang kamu sebutkan tadi: "kaki", "kepala". Itu adalah hal-hal dari dunia kita, yang punya bentuk tertentu. Ini adalah titik awal untuk kreasimu. Kamu perlu tahu apa itu kepala untuk bisa menggambarnya, sekalipun kamu ingin membuat kepala jenis baru.

Saya ingin memperjelas satu hal: mengapa kamu tidak bisa menggambar sesuatu secara realistik, meskipun kamu tahu tampilannya? Kamu bisa membayangkan seekor kuda dengan sangat jelas dalam pikiran, tapi di atas kertas kok jadi tampak salah. Apakah itu, lagi-lagi, karena kurang berbakat?

Tidak, ini karena pencampuradukan dua proses yang berbeda—identifikasi dan kreasi. Mari kita cermati dengan kode-kodean sederhana berikut ini:

Identifikasi

Ketika kamu melihat hewan dengan ciri-ciri yang tersimpan di pikiranmu seperti kuda, kamu pun mengenalinya sebagai kuda. Sesimpel itu. Kamu tidak perlu tahu semua ciri kuda untuk bisa mengenalinya—cukup beberapa saja dan kamu tahu apa yang kamu lihat. Hal yang sama terjadi ketika kamu membayangkan seekor kuda di pikiranmu—kamu tidak melihat ciri yang tidak kamu ketahui, dan pikiranmu dengan cerdik menyembunyikan kekurangan itu.

Kreasi

Situasinya jauh berbeda ketika kamu ingin membuat kuda sendiri. Kamu harus mengetahui semua variabel di atas, dan banyak lagi! Kamu mulai menggambar kuku dan tersadar bahwa kamu tidak tahu seperti apa bentuknya—meskipun kamu dapat mengenalinya ketika kamu melihatnya. Itulah sebabnya tes pilihan ganda biasanya lebih mudah!

identification versus creationidentification versus creationidentification versus creation
1—identifikasi, 2—kreasi

Semua kendala terkait kreasi muncul dari minimnya kumpulan informasi tentang realitas di kepala kita. Seringkali kita merasa tahu tampilan sesuatu, tetapi ketika sudah menyangkut detail, kita tak tahu. Ketika membaca buku, kamu tidak melihat setiap helai rumput yang dipijak sang tokoh, malah, kadang kamu tidak tahu tampangnya (sampai kamu melihatnya dalam film dan membandingkan imajinasimu dengan kenyataan). Kamu mengira bayanganmu mengenai dunia di buku itu sudah lengkap, tetapi saat ada yang menggambarnya dan menunjukkannya kepadamu, ternyata masih banyak celah. Kalau kamu ingin menciptakan gayamu sendiri, mulailah dengan mempelajari realisme—bangunlah basis data tentang segala hal yang kamu lihat.

Gaya dan Penilaian

  • Komentator: "Menurut saya kakinya mestinya tak sepanjang ini, hewan ini sangat berotot, dia jadi kelihatan ringkih".
  • Seniman: "Saya suka menggambar dengan cara ini, ini gaya saya, kamu tidak bisa menilainya!"
  • Komentator: "Saya suka! Kaki-kaki tipis ini sungguh imut!"
  • Seniman: "Terima kasih!"

Tidakkah kamu melihat ada yang aneh di sini? Penilaian bukan hanya soal pendapat negatif atau positif—tapi soal keduanya. Ketika kamu memposting gambarmu di internet (atau dengan cara lain agar dilihat orang), kamu sudah menjadikannya sasaran penilaian. Jika kamu melakukan itu, tapi hanya mengharapkan opini positif saja, itu seperti begini:

  • Seniman (yang memasak hidangan dan menyajikannya): Silakan!
  • Tamu 1: Mm, rasanya enak!
  • Seniman: Terima kasih! Bagaimana menurutmu, Tamu 2?
  • Tamu 2: Sejujurnya, saya tidak suka, terlalu asin
  • Seniman: Tapi itu resep pribadi saya! Kamu tidak bisa bilang suka atau tidak!

Tidak logis kan? Ya, jadi jika kamu memposting gambar untuk mendapat pujian saja, berarti kamu tidak benar-benar logis. Setiap orang dapat menilaimu, kamu tak bisa menghilangkan hak ini. Tapi penilaian mereka tidak mengubah apa pun terhadap objeknya.

Bayangkan kamu punya batu kesukaan, yang mengingatkan pada peristiwa penting di hidupmu. Kamu memposting foto-foto batu itu di media sosial dan ketika temanmu menggerutu, kamu menanggapi dengan agresif: "ini batu saya! Kamu tak bisa menilainya, kamu tak tahu betapa pentingnya itu bagi saya!". Oke, mereka tak tahu dan takkan pernah tahu—lalu mengapa kamu memposting foto-foto itu? Jika hanya kamu yang bisa memahami gaya/batu itu, mengapa kamu mempostingnya agar dilihat orang lain? Kamu ingin mereka menilainya kan, dan harus positif? Kamu tak bisa memaksakan ini ke pikiran mereka. Jika kamu ingin gayamu diterima dan dibenarkan, buatlah itu dapat dimengerti (gunakan kiat-kiat dari paragraf sebelumnya). Jika tidak—lalu mengapa diposting?

Gaya, seperti hal-hal lainnya, dapat dinilai. Ketika ada yang bilang tidak suka gaya Lion King, bukan berarti dia salah, karena banyak juga yang menyukainya—itu hanya opini! Dalih "itu gaya saya, kamu tak bisa menilainya!" sebenarnya seperti memelas "jangan bilang itu salah, jangan bilang itu salah".

Menjawab pertanyaan di awal tulisan, secara obyektif tidak ada gaya yang "lebih baik" atau "lebih buruk", sampai ada standar lain. Suatu gaya tidak "jelek", tapi hanya "kurang realistik bagi saya". Tapi, bisa jadi ada gaya yang lebih atau kurang dikembangkan, jadi berhati-hatilah jangan menggunakan "gaya" sebagai tameng dari kritik.

Meniru Gaya

Saya kira sebagian besar seniman memulai dengan cara ini, setelah melalui fase corat-coret anak-anak. Mereka sudah nyaman dengan pensilnya ("pandai menggambar" dalam arti paling dasar), tetapi perkembangannya tak sepesat yang mereka harapkan. Jadi alih-alih belajar dari orang lain, mereka malah menjiplaknya. Tiba-tiba gambar mereka terlihat sempurna, dan orang-orang menyukainya. Biasanya dimulai dengan menjiplak garis, lalu menirunya sambil melihat, sampai mempelajari kaidah gaya untuk membuat karakter sendiri dan mendapat keleluasaan. Apakah itu salah? Mari kita periksa:

Kelebihan:

  • Kamu merasa nyaman dengan pensil dan alur garis;
  • Kamu melatih koordinasi mata-tangan;
  • Tanpa sadar, kamu belajar tentang rasio emas;
  • Kamu belajar bersenang-senang dengan menggambar; 
  • Kamu menggambar tanpa dituntut untuk menjadi lebih bagus, karena kamu sudah bagus;
  • Kamu tahu bagaimana rasanya dipuji karena keterampilanmu.

Kekurangan:

  • Kamu merasa pandai menggambar dan tidak perlu mempelajari hal lain, karena kamu sudah dipuji—jadi kamu menyudahi perkembangan artistikmu;
  • Kreativitasmu bisa terganggu;
  • Kamu menganggap penyesuaian gaya artistik sebagai hal yang normal dan benar, sesuatu yang nyata;
  • Tidak seperti seniman aslinya, kamu mengabaikan semua kaidah dalam pembuatan gaya, sehingga kamu tidak akan pernah betul-betul menguasainya;
  • Gaya itu menjadi bagian darimu dan kamu tidak dapat melepaskannya, bahkan ketika kamu mencoba mengembangkan gayamu sendiri (ini adalah ancaman serius!);
  • Kamu tak dapat menilai karya senimu secara obyektif, kamu—dan orang lain—hanya melihatnya dari seberapa mirip ia dengan aslinya;
  • Kamu membangun zona nyaman yang akan sangat sulit ditinggalkan;
  • Kamu semakin ketagihan dengan pujian dan takut mencoba sesuatu yang baru, karena khawatir tidak sebaik sebelumnya.

Bagaimana dengan manga? Bukankah menggambar manga itu juga "meniru gaya"? Tidak sepenuhnya begitu. Manga (atau "gaya komik Jepang") lebih merupakan satu set gaya yang serupa. Sama seperti "gaya Disney" yang bisa memberimu panduan, kiat-kiat berguna soal proporsi, tapi masih memberi ruang untuk mengembangkan versimu sendiri. Ini berbeda dengan hanya fokus pada satu gaya (dari komik/animasi tertentu), tapi itu membatasimu dengan kaidah buatan orang lain.

Jika paragraf tadi membuatmu lega, kabar buruknya: para seniman manga yang punya gaya personal adalah seniman yang umumnya juga handal. Mereka pasti berpengalaman dalam menggambar realistik, dan mereka hanya memilih manga sebagai dasar untuk gayanya saja. Jika kamu tak punya pilihan selain menggambar dengan gaya orang lain, dapatkah kamu benar-benar menggambar? Kecuali kamu memahami apa dasar suatu gaya (realisme), kamu tidak akan dapat memodifikasinya secara leluasa. Kamu tidak akan tahu cara mengubah sesuatu tanpa melanggarnya!

Kesimpulan

Menggambar itu lebih rumit dari yang kita pikirkan. Dasarnya memang sangat sederhana tapi jadi sulit luar biasa jika sudah menyangkut gambar naga dan kesatria. Saya kira sebagian besar masalah pemula itu karena kesalahpahaman tentang hobi mereka—ini bukan soal menarik garis di atas kertas lewat proses misterius di pikiran kita. Ketika kamu memahami betapa banyaknya aspek menggambar, akan jelas bahwa setiap aspek itu dapat dimodifikasi untuk menciptakan gaya baru. Dan karena semua gaya berasal dari realisme, mulailah dengan memahaminya—amati, cermati, jadikanlah realitas satu-satunya gaya yang kamu tiru.

Perhatikan seniman lain—telusuri jejak realisme dalam seni mereka, lihat apa yang mereka ubah, pikirkan bagaimana kamu bisa mengembangkannya. Sebagai seniman, kamu tidak berkembang ketika memegang pensil saja—setiap kali kamu melihat dan memahami sesuatu, pengalamanmu juga bertambah!

Amati, perkirakan, pertanyakan—lalu lakukan yang kamu inginkan dengan garis, warna dan cahaya untuk menyajikan pengamatanmu kepada orang lain.

One subscription.
Unlimited Downloads.
Get unlimited downloads