Advertisement
  1. Design & Illustration
  2. Drawing Theory

Mengapa Kamu Tidak Perlu  Tablet Grafis

by
Length:LongLanguages:

Indonesian (Bahasa Indonesia) translation by Irsyad Rafsadie (you can also view the original English article)

Sewaktu kecil, saya tidak tahu tentang tablet grafis, atau bahkan komputer. Tapi saya suka menggambar, dan saya berkhayal jauh tentang spidol ajaib yang berisi semua warna, juga sehelai kertas yang bisa diperbarui lagi setelah selesai. Khayalan ini tidak aneh bagi orang yang ingin terus berkreasi dan berkreasi tanpa batas.

Belakangan, ketika saya tahu bahwa alat ajaib seperti itu benar-benar ada, saya merasa semakin terbatasi dengan pensil saya. Saya menggunakan komputer untuk menambahkan warna dan menebalkan garis gambar, namun rasanya tidak artistik, dan tidak menghasilkan efek yang diharapkan. Akhirnya, saya pun punya tablet pertama, sebuah Wacom Bamboo kecil, dan rasanya seperti di surga! Saya punya semua warna, semua alat, dan bisa melakukan apa saja!

Perlu bertahun-tahun sampai saya sadar bahwa beralih ke seni digital sebelum belajar cara menggambar adalah kesalahan besar. Ini adalah pelajaran yang sangat pahit bagi saya, yang kedua setelah tahu bahwa "menggambar harus dipelajari". Namun kalau saya bertemu para seniman pemula, mereka selalu berkata kalau mereka akan lebih baik lagi seandainya punya tablet grafis, dan merasa buruk karena tidak memilikinya. Inilah pesan saya untuk kamu semua: punya tablet pada waktu yang tidak tepat dapat merusak keterampilanmu. Begitulah yang saya alami!

Impian tentang Kehebatan

Semuanya bermula dengan alasan jauh di dalam benakmu. Bagi saya alasannya adalah agar ide, atau yang sekarang saya sebut konsep, dapat terlihat lebih baik di luar pikiran saya. Menggambar—membuat tanda dengan pensil—hanyalah perantara. Saya lebih suka mewujudkan ide-ide itu dengan pikiran saya, hanya dengan memikirkannya, andai saja itu mungkin.

pencil drawing dragon first

Namun ini bukan hanya soal mewujudkan idenya—tapi lebih soal menyajikannya kepada orang lain. Antisipasi yang saya rasakan ketika berkreasi ini muncul dari membayangkan apa yang akan mereka rasakan ketika melihatnya rampung. Saya menggambar dan tersenyum ketika memikirkan komentar orang bahwa karya seni saya menyentuh hati mereka.

pencil drawing dragon scene

Karena menggambar adalah semacam perantara untuk tujuan saya, ia pun terbatas. Melukis tampak lebih pas, tetapi secara teknis terlampau rumit. Photoshop tampaknya alat yang sempurna—rapi, canggih, dan memudahkan. Saya pun menggunakannya untuk memperkaya gambar saya. Awalnya untuk mewarna ulang karya seni...

pencil drawing photoshop colors

... tapi seiring waktu saya juga belajar menggunakan alat lain. Efeknya luar biasa!

pencil drawing photoshop tools tricks

Lalu saya punya tablet! Bahagia sekali rasanya. Akhirnya, tidak ada batas! Begitulah pikir saya...

photoshop painting tablet wacom bamboo

Setelah punya tablet saya mulai banyak melukis. Ini adalah masa yang indah, saat saya bisa berkreasi apa saja, dan konsep saya—yang menarik secara visual—menjangkau semakin banyak orang.

photoshop painting tablet wacom bamboo concept dragon

Tentu saya sadar saya tidak bisa melakukan beberapa hal. Latar belakang, misalnya, adalah mimpi buruk bagi saya. Saya ingin membuat karakter dan adegan, tapi latar belakang tidak memungkinkan. Seiring waktu saya mulai menyadari lebih banyak lagi hal yang tidak dapat dilakukan. Dan hal-hal ini tampaknya tidak "dipelajari" dengan sendirinya, seperti dulu. Saya harus mulai belajar.

photoshop painting learning animals dragon

Dan inilah kesimpulan mengejutkan dari cerita pendek ini. Lihatlah semua contoh gambar saya ini sekali lagi. Apakah kamu memperhatikan sesuatu? Tanpa disengaja, tanpa disadari, saya beralih dari menggambar ke melukis. Seperti saya katakan sebelumnya, saya hanya ingin berkreasi, dan menggambar hanya perantara saja, jadi tidak masalah, kan? Saya salah besar.

Kamu Ingin Menggambar—Tapi Mengapa?

Saya mulai dengan suatu alasan, tetapi seiring waktu saya melupakannya. Saya ingin menunjukkan konsep saya kepada orang lain, lalu saya ingin membuatnya lebih menarik, tetapi alih-alih fokus pada keahlian saya, saya memasuki dunia warna dan bayangan. Alih-alih belajar menggambar dengan cepat dan efisien, saya menggunakan penghapus dan setumpuk layer untuk memperbaiki kesalahan. Alih-alih belajar menggambar anatomi hewan, saya menjiplak sekian referensi untuk membuat gambar yang saya pikirkan.

Dan begitulah saya kalah. Alih-alih menjadi seniman yang baik, saya menjadi ahli trik dan jalan pintas. Saya sama sekali tidak belajar menggambar—saya, menurut alasan dan kebutuhan saya, belajar mengkreasi yang saya inginkan. Bukankah itu juga yang dilakukan seniman yang menjiplak atau mewarnai seni garis orang lain? Inilah yang terjadi jika kita fokus pada hasilnya, dan bukan pada metodenya.

photoshop bad painting how to learn
Lukisan yang cantik? Mungkin, tapi dari segi gambar lemah. Jika kamu tidak bisa melihatnya, kamu mungkin akan membuat kesalahan yang sama jika diberi tablet.

Saya memandangi gambar Terry Whitlatch yang tergantung di pinboard saya, dan bertanya-tanya kapan gambar ini jadi salah. Selama bertahun-tahun, dari orat-oret tak bermakna, sampai analisis yang berat, saya pun menjadi pelukis yang tidak pernah saya inginkan! Saya ingin menghidupkan makhluk di pikiran saya, dan yang saya sadari, sekarang ini, adalah bahwa saya hanya butuh sebuah pensil.

Jebakan Ketakterbatasan

Menggambar itu sulit. Saya perlu waktu lama untuk memahaminya, dan sebelum itu, hidup saya hanya terus mencari "cara yang lebih mudah". Pertama saya mengubah pensil klasik dan keras ke seperangkat pensil yang lebih lembut—ini mengawali kesalahan berikutnya. Kesalahan berikutnya adalah memperkaya gambar di Photoshop. Lalu penggunaan salin-tempel, rotasi, transformasi, filter, dan tekstur untuk mendapatkan sesuatu yang tidak benar-benar saya gambar. Lalu datanglah tablet, yang mengubah saya menjadi pelukis.

Saya ingin lebih mudah, setiap saat. Itu adalah kesalahan terbesarnya—mencari-cari kelemahan pada medium, dan bukan pada keterampilan saya. Saya pernah mendengar ungkapan: "Untuk bisa berpikir di luar kotak, kamu harus berada dalam kotak dulu". Saya pernah berada di dalam kotak, dengan sebuah pensil keras dan semangat berkreasi, dan apa yang saya lakukan? Saya keluar dari kotak, masuk ke kotak yang lebih besar.

Mengapa itu buruk sekali? Bayangkan orang menyuruhmu menggambar sesuatu yang kreatif, sesukamu. Dapatkah kamu merasakan kekosongan di benakmu? Sulit mendapatkan ide saat kamu bisa menggunakan semuanya. Dan sekarang bayangkan orang itu menyuruhmu menggambar sesuatu dari tiga unsur: tikus, stroberi, dan secangkir air. Apakah kamu merasa terinspirasi sekarang?

Inilah jebakan ketakterbatasan. Semakin banyak kemungkinan, semakin sulit untuk memilih dan menguasainya. Kamu tidak tahu mana yang paling efektif, jadi kamu mesti mencoba semuanya, menjajal semuanya, menghabiskan waktu dan mengenal banyak di antaranya, namun tidak menguasai satu pun.

Jika kamu terkurung penjara, hanya dengan pensil dan beberapa lembar kertas jelek, kamu tidak akan memikirkan cara lain. Kamu tidak akan beralih ke medium lain untuk memastikan apakah itu cocok denganmu. Kamu akan mengerahkan seluruh waktu dan semangatmu untuk menguasai satu alat yang kamu miliki. Dan kamu lebih berpeluang untuk lekas mahir daripada anak tajir yang punya Cintiq.

Di sini kamu mungkin tidak setuju dengan saya. Anak pemilik Cintiq itu punya semua warna; mereka dapat bebas melukis, dan melukis jauh lebih realistis daripada menggambar. Tapi... apakah ini memang soal realisme? Kembalilah ke alasanmu, kebutuhan utamamu. Apakah kamu mau membuat foto dengan tanganmu? Apakah kamu ingin agar orang-orang berkata bahwa mereka terpukau karena mengira melihat foto? Itu saja, dan bukan yang lain?

Jika demikian, kamu dapat berhenti membaca. Tablet tentu akan membantumu menjadi manusia fotokopi. Tapi seni dan kreasi tidak hanya sebatas itu. Lihatlah dua contoh di bawah ini. Contoh pertama berwarna, tetapi contoh kedualah yang menyajikan konsepnya dengan sepatutnya. Gambarnya menangkap energi dan suasana adegan, sedangkan yang dilukis, dan berwarna hanya... cantik. Ya, lukisan indah dapat dibuat dari sketsa ini, tetapi pada tahap ini saja dia dapat berdiri sendiri—dia tidak perlu warna untuk berbicara kepada khalayak.

what is better drawing or painting comparison
Lebih mudah untuk membuat lukisan yang menarik daripada sketsa yang cermat

Kesalahpahaman bahwa melukis adalah bentuk kreasi yang lebih tinggi sering membuat gambar dikesampingkan ketika dimungkinkan. Padahal, menggambar bukanlah bentuk seni yang lebih rendah, yang pemula—menggambar itu bentuk yang berbeda, bahkan mungkin lebih sulit daripada melukis. Melukis itu menyalin atau mencipta-ulang realitas, sedangkan menggambar adalah menghadirkan garis yang tidak ada—hanya pikiran kita yang membuatnya nyata.

Jalan Keluar dari Kotak

Semahir apa pun saya melukis, saya selalu merasa iri dengan gambar rapi karya seniman profesional. Gambar saya tidak pernah terlihat profesional. Saya dapat menggambar hal serupa, jika diberi waktu dan referensi, tetapi sketsa saya kaku dan kotor. Hal itu mengganggu saya, tetapi hanya sedikit. Lagi pula, begitu saya menambahkan semua warna dan bayangan ajaib di atasnya, tidak ada yang akan tahu. Perhatikan bahwa... Saya tidak bisa menggambar.

bad drawing bad painting
Apakah itu terlihat bagus menurutmu? Seni garisnya dipenuhi kesalahan anatomi yang saya abaikan demi bisa selesai, dan lukisannya diarsir hitam dan putih, dengan sumber cahaya yang tidak jelas. Ini selesai dalam dua minggu, dan saya bangga sekali ketika itu!

Mari kita kembali ke masa ketika kamu menggambar sesuatu dan semakin lama dan semakin kamu tambahkan detail, gambarnya malah menjadi semakin berantakan. Saat itulah dorongan untuk memiliki tablet begitu kuat. Kamu memikirkan layer, dan variabel opacity, dan penghapus yang non-destruktif, dan itu tampak seperti solusi untuk menyelesaikan semua masalahmu. Ya, ini adalah suatu cara. Tetapi apakah ini satu-satunya cara? Dan ... apakah ini cara yang benar?

why messy drawing how to fix
Saya tidak begitu yakin ke mana arah semua garis ini...
messy drawing photoshop fix
... tapi dengan tablet itu bukan lagi masalah. Lebih jelasnya: itu bukan hal yang baik!

Selalu ada lebih dari satu cara untuk menyelesaikan masalah. Contoh jenaka: seorang tokoh karakter kartun berkata, "Saya tidak tahan melihat penderitaannya!" lalu menutup tirai. Masalahnya terpecahkan, tetapi apakah ini cara yang benar? Jika kamu mencium bau tidak sedap, apakah memotong hidungmu adalah solusi yang benar, atau solusi satu-satunya?

Garismu tampak berantakan bukan karena kamu tidak punya tablet. Ia berantakan karena kamu tidak cukup terampil untuk mengarahkannya. Jika kamu beralih ke tablet pada titik ini, kamu hanya perlu menyapu masalahnya ke balik permadani, dan lupakan saja. Itu tidak akan terpecahkan—kamu hanya tidak akan melihatnya lagi.

Mari kita lihat apa yang kamu inginkan dari tablet:

  • untuk menghapus kesalahan tanpa berbekas
  • untuk menggambar garis baru di atas garis yang keliru dengan tetap bersih
  • untuk membatalkan kesalahan
  • untuk membuat seni garis yang rapi tanpa kekacauan di baliknya

Cara yang benar untuk menghindari kesalahan bukanlah dengan menutupinya, tapi dengan mempelajari cara agar tidak membuat kesalahan itu sendiri. Menekan Control-Z setiap kali ada kesalahan hingga menjadi benar jauh lebih mudah daripada mencoba memahami apa yang "salah" dan "benar" dalam menggambar.

Jangan keluar dari kotak. Berhentilah mengkhayalkan "cara yang lebih mudah". Punya tablet atau tidak, pasti ada masanya kamu mulai belajar. Kenapa tidak sekarang?

Warna, Beri saya Warna!

Kamu mungkin bisa bilang bahwa alasanmu berbeda dari yang saya sebutkan. Kamu ingin tablet agar kamu bisa mewarnai gambarmu. Ya, itu alasan bagus, tetapi saya harus ingatkan—warna adalah subjek yang sangat kompleks. Ia bukan hanya soal mengisi suatu area, seperti yang kamu lakukan sewaktu kecil. Dan saat berlatih, kamu mungkin akan berhenti menggambar dan berubah menjadi pelukis.

Melukis itu sendiri tidak buruk. Saya begitu menekankan hal ini untuk membedakannya dari menggambar. Tanyalah dirimu sendiri apa tujuanmu, dan kamu akan tahu apakah itu cocok untukmu. Saya selalu ingin membuat sosok makhluk; tujuan kedua adalah dengan "serealistis mungkin", dan untuk itu saya perlu tablet. Akhirnya, saya berkutat dengan "serealistis mungkin", dan "menciptakan makhluk" jadi nomor dua. Itu bukanlah yang saya inginkan!

Jika kamu ingin menghindari ini, cobalah gunakan Pen Tool. Ia dirancang untuk digunakan dengan mouse, dan mungkin itu saja yang kamu perlukan untuk menambahkan warna secara saksama. Namun, pastikan kamu dapat menggambar sebelum kamu menghiasi gambarmu dengan warna. Hindarilah cara pikir begini: "Gambarnya tidak terlihat bagus sekarang, tetapi setelah saya tambahkan warna..."

Masuk Ke Kotak

Menggambar bukanlah coba-coba sampai sesuatu yang bagus muncul. Jika gambarmu terlihat buruk, itu ada alasannya. Kamu harus menemukan dan mengatasi masalahnya, bukan meninggalkan dan mengondisikan masalahnya agar tidak terlihat. Kamu tidak akan menjadi juara catur dengan hanya menghadapi pemain yang lemah.

Jika kamu sedang belajar menggambar, pelajarilah terlebih dahulu sebelum mendapatkan tablet grafis. Intuos atau Cintiq dengan Photoshop atau perangkat lunak lain akan memberimu lebih banyak peluang, saking banyaknya hingga kamu akan mudah lupa mengapa kamu mulai menggunakannya.

Tergesa-gesa beralih ke tablet dan perangkat lunak menggambar dapat membuatmu mahir mencari jalan pintas atas masalah. Kamu dapat membuat apa saja, tetapi itu bukan benar-benar menggambar. Dan bukan berarti kamu tidak bisa belajar menggambar dengan tablet, tetapi semua kemudahan itu akan membuat pembelajaran "klasik" tampak usang. Selain itu, kamu mungkin tidak akan bisa menahan godaan untuk melukis, dengan semua alat di hadapanmu. Dan bisa melukis tidak berarti kamu bisa menggambar!

Cobalah beberapa latihan ini dan lihat apakah kamu bisa menguasainya. Amati reaksi pikiranmu terhadapnya. Apakah kamu merasa itu akan lebih mudah dengan tablet? Jika begitu, artinya kamu benar-benar perlu melatihnya. Jika itu mudah saja bagimu, silakan menjajal tablet—itu tidak akan mengganggu kemajuanmu!

15 Sketsa Garis

Kumpulkan sejumlah referensi tentang topik yang ingin kamu pelajari. Kamu dapat menggunakan seluruh halaman Google Images saja untuk itu. Ambil spidol, atau pena, atau pensil tumpul (apa pun yang agak lebih tebal dari bolpoin), dan cobalah menangkap bentuk setiap topik tersebut dengan tidak lebih dari 15 garis saja.

Silakan pikirkan setiap garis, tetapi sekali kamu merencanakannya, gambarkan dengan segera. Ia harus berupa garis bersambung! Juga, lebih baik jika referensinya kecil, begitu pun sketsamu. Tidak perlu detail seperti ini, dan kamu bisa memasukkan lebih banyak lagi di satu halaman.

drawing exercise practice pencil limited lines
Tak perlu menghitung garisnya, fokus saja untuk menggunakannya sesedikit mungkin.

Menggambar 30 Detik

Sekali lagi siapkan satu set referensi, tapi kali ini buat peragaan slide darinya. Kamu dapat menggunakan perangkat lunak untuk ini, memindahkannya secara manual, atau menggunakan bantuan slide-show gambar Google ini. Semakin kamu percaya diri, semakin sedikit waktu yang kamu perlukan untuk setiap slide. Satu menit adalah cara yang baik untuk memulai!

deviantart slide show practice
Di DeviantArt, kamu dapat membuat slide-show dari setiap folder galeri—misalnya, folder Favorit dengan referensi yang telah kamu kumpulkan

Sekarang, coba salin dalam skala kecil, sederhanakan detailnya dan gunakan sesedikit mungkin baris tanpa mengorbankan akurasi. Kamu harus melakukannya dengan cepat—dengan begitu kamu memaksa dirimu untuk mencari jalan pintas. Jangan merisaukan kesalahan dan proporsi yang buruk—ini adalah latihanmu, jadi gambar buruk pastilah wajar. Hasil yang lebih baik akan datang seiring waktu, jadi tidak perlu dipaksakan. Buat target untuk menggambar, misalnya, 30 sketsa sehari, bukan target untuk menggambar dengan bagus.

drawing exercise practice pencil fast drawing limited time

Belajar Rendah Hati

Yang ini lebih berhubungan dengan pikiran daripada keterampilanmu. Jika kamu terlalu terpaku pada gambar yang ternyata lebih baik daripada yang lain, itu berarti kamu masih tidak percaya diri dengan keterampilanmu. Kamu jadi terlalu nyaman dengan garis-garis tertentu, dan itu menghambatmu untuk belajar bebas.

Saat belajar cara menggambar, tujuanmu adalah senantiasa membuat sketsa yang secara teknis benar. Kamu tidak perlu menyukai semuanya, tetapi setidaknya semuanya harus layak secara teknis. Jika kamu membuat kesalahan nyata yang kamu sadari setelah menggambarnya berarti kamu masih harus mengasah keterampilanmu, dan di sini tablet tidak akan membantu sama sekali.

Gambar sesuatu, sekali. Kemudian gambar sekali lagi, perbaiki kesalahan yang kamu temukan. Gambar lagi, jika perlu. Jika kamu sudah senang dengan hasilnya, singkirkan itu. Jangan menggunakannya sebagai acuan untuk karya yang lebih besar, jangan mengunggahnya ke situs sosial untuk menyombongkan kemajuanmu. Buang saja. Bersihkan, ulangi.

drawing exercise practice pencil fixing mistakes

Latihan Otot Memori

Ini adalah favorit saya, tetapi juga yang paling sulit. Kamu pilih sebuah topik, putar musik bagus, dan menggambarlah. Gambarlah yang banyak. Secepat mungkin, tangkaplah jiwa topik tersebut, lalu tambahkanlah detail tanpa mengurangi kecepatan. Selesai satu, coba yang lain. Belajarlah dari setiap percobaan. Tanya dirimu: apakah gambarnya sudah menangkap "esensi" topik tersebut? Di mana kesalahannya? Tujuannya adalah untuk membiasakan tanganmu dengan gerakan yang diperlukan untuk menggambar topik tersebut, tapi juga agar gerakannya bisa seefisien mungkin.

Buatlah ratusan gambar, sebanyak yang bisa muat di satu lembar, dan simpan hasilnya untuk memotivasi dirimu di kemudian hari. Namun, jangan terlalu lama di sini. Jika kamu merasa penat, atau sangat lelah/bosan (bukan bosan biasa, tetapi seperti "saya tidak tahan lagi"), itu tandanya kamu telah melampaui batasmu dan kamu bisa cukupkan untuk hari ini.

Juga, ingat ini adalah "latihan memori otot", bukan "latihan otot". Kamu mungkin merasa sedikit lelah, tetapi seharusnya tidak sakit!

drawing exercise practice pencil muscle memory workout

Kamu mungkin memperhatikan saya melakukan latihan ini di tablet. Ada alasannya: hal lain yang saya latihkan di sini adalah mempersempit jarak antara tablet dan layar.

Apakah ini curang? Tidak juga. Saya menggambar dengan tablet, tetapi saya tidak menggunakan bantuan Photoshop. Tanpa zoom, tanpa penghapus, hanya dengan kuas keras berukuran konstan, satu layer, tanpa Control-Z, tanpa transformasi; pada dasarnya tidak ada bedanya dengan kertas cuma ruang kerjanya saja besar.

Kamu tidak akan membeli tablet kalau hanya untuk melatih ini, tetapi jika kamu melakukan kesalahan yang sama dengan saya—membeli tablet sebelum belajar cara menggambar—silakan berlatih dengan cara ini.

Kesimpulan

Jika kamu masih ragu, dan kamu merasa seperti "benar sih, tapi semua profesional menggunakan tablet", bayangkan kamu diundang ke wawancara kerja dan kamu diminta menggambar sesuatu dengan pensil. Kamu diberi waktu lima menit, dan tidak ada referensi apa pun. Apa yang akan kamu rasakan? Atau mereka memintamu menggambar sesuatu dengan tablet, tetapi mereka mengamatimu sepanjang waktu, berkeliling melihatmu dan menunggu gambar yang bagus muncul sendiri. Tidakkah kamu merasa tertekan?

Punya tablet grafis sebelum belajar menggambar itu seperti membeli kamera profesional dan mahal sebelum memahami dasar-dasar fotografi dengan model yang lebih sederhana. Sekalipun kamu mengambil foto yang lebih baik dengannya, itu hanya kebetulan. Dan jika kamu kehilangan benda itu, keterampilanmu juga mungkin akan ikut hilang. Semua orang bisa tampak ahli dengan peralatan mahal, tapi yang terpenting adalah apa yang bisa mereka lakukan tanpa itu semua!

Tahukah kamu kesamaan kamu dengan seniman seperti Leonardo da Vinci dan Michelangelo? Ya, kalian tidak punya (atau pernah punya) tablet grafis! Bedanya adalah para seniman itu tidak membuang waktunya menunggu alat "yang lebih baik". Mereka memanfaatkan apa yang mereka punya, dengan sebaik-baiknya. Ada pesona khusus jika menggunakan alat biasa, sederhana, peninggalan zaman ketika teknologi belum maju, dan melakukan hal yang ajaib dengannya, di mana pun kamu berada dan berapa pun uang yang kamu punya. Dan, yang terpenting, kamu tetap seniman tanpa listrik sekalipun!

Satu hal terakhir. Mungkin kamu berkecil hati melihat lukisan saya, yang tampak lebih bagus dari semua yang kamu buat, dan mendengar penilaian orang tentang betapa "buruknya" karyamu. Itu menandakan masalah lain. Jika kamu tidak dapat membedakan lukisan terampil dari lukisan amatir, bagaimana kamu bisa melukis dengan baik, bahkan dengan tablet terbaik di dunia sekalipun? Kamu perlu belajar cara melihat, cara menyederhanakan, cara belajar—dan kamu tidak memerlukan tablet untuk semua itu.

bad drawing tablet doesnt help
Saya menggambar ini secara tradisional setelah punya tablet cukup lama. Kamu bisa lihat kan, tablet tidak membuat saya lebih baik dalam menggambar! (Dan jika kamu tidak bisa melihatnya, cari tahu serigala seperti apa)
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Looking for something to help kick start your next project?
Envato Market has a range of items for sale to help get you started.